Mengatasi Kejenuhan


Jenuh

Sesungguhnya setiap amal itu mempunyai puncak semangat, dan setiap semangat memiliki titik jemu (lesu). Maka barangsiapa kelesuannya tetap dalam sunnahku berarti ia telah mendapat petunjuk (dari Allah), dan barangsiapa kelesuannya tidak dalam sunnahku berarti ia celaka. (HR. Ibnu Khuzaimah dalam Shahihnya, Ahmad dalam Musnadnya, Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman, At-Thabarani dan Abu Nu’aim).

Jenuh, suatu kata yang sering kita rasakan atau bahkan kita keluhkan dalam aktivitas sehari-hari. Kejenuhan adalah tekanan. Siapapun yang merasa jenuh, dia akan berusaha sekuat tenaga melepaskan diri dari tekanan itu. Solusi paling umum yang ditempuh untuk mengatasi kejenuhan adalah mencari hiburan. Sebagian hiburan bernilai positif, sebagian yang lain tidak. Agar tidak salah dalam memilih dan mengonsumsi hiburan, hanya kepada Allah kita berlindung diri.

Kejenuhan merupakan masalah semua orang. Untuk itu kita dituntut memiliki pengetahuan dan keterampilan yang memadai untuk mengatasi masalah ini. Paling tidak, dengan bekal pengetahuan yang dimiliki, seseorang bisa terhindar dari resiko-resiko buruk dibalik kejenuhan.

Seperti dalam buku Abu Abdirrahman Al-Qawiy yang berjudul “Mengatasi Kejenuhan”, banyak menceritakan tentang fenomena kejenuhan dan cara mengatasinya. Kejenuhan datang seperti tiupan angin; Saat-saat tertentu ia datang, lalu pergi. Namun ada jenis kejenuhan yang sangat serius. Kejenuhan tipe ini seperti badai Tornado; Ia datang mengurung hidup seseorang, merusaknya, lalu melempar orang itu kelembah kebinasaan. Inilai kejenuhan hidup, orang merasa bosan untuk hidup lebih lama dimuka bumi.

Jenuh banyak memiliki ragam, beberapa kejenuhan yang bertebaran disekitar kita seperti: Jenuh Belajar, Bekerja, Berkarya, Berbisnis, Belajar Agama, di Rumah, Memimpin, dan Jenuh Hidup. Dan jenuh juga ada positifnya yaitu jenuh terhadap segala sesuatu yang buruk dan menyimpang. Mengenai jenuh belajar, sebagai seorang siswa itu salah satu kejenuhan yang sering saya temui, alami dan dirasakan.

Maaf kawan

Bukan maksud menggurui, ketika seorang siswa yang sedang bermain atau bahkan tidur disaat proses belajar-mengajar, sang guru hanya menyalahkan siswa tersebut dengan memberi teguran atau bahkan hukuman, itu akan meruntuhkan semangat dan mental belajar siswa tersebut. Seharusnya seorang guru tidak hanya dapat menyalahkan seorang siswa tetapi juga intropeksi diri merubah sistem belajar seperti mengadakan games/permainan, kuis, berdiskusi atau lain sebagainya yang lebih seru dan mengasyikkan, dengan begitu rasa kejenuhan akan berkurang dan semangat belajar kembali timbul.

Itu semua merupakan fenomena kejenuhan yang ada disekitar kita. Dan kejenuhan sangat berpengaruh seperti penyakit, melemahkan semangat, meluruhkan kekuatan (tekad). Kejenuhan banyak menimbulkan dampak negatif yang selama ini banyak dirasakan, diantaranya :

1.      Sebagai penyakit. Kejenuhan dapat menghalang orang untuk melanjutkan pekerjaan, ia tidak memiliki cukup tekad untuk menuntaskan pekerjaan, kita harus menyikapinya secara bijaksana agar penyakit ini tidak berlanjut.

2.      Produktifitas menurun. Ketika orang merasa jenuh, saat itu produktifitas kerjanya menurun, Dia malas bekerja, semangatnya luntur, dan ingin melakukan hal-hal lain untuk mengusir kejenuhan.

3.      Rencana gagal. Kejenuhan bisa mengacaukan rencana yang sudah disusun. Sebuah rencana mungkin sudah dipersiapkan dengan sangat baik, namun kejenuhan yang tiba-tiba muncul ditengah jalan, bisa menjadi musibah yang sangat menyakitkan.

4.      Hasil tidak matang. Kerja maksimal akan diperoleh ketika seseorang mampu mempertahankan irama kerja, dan menjauhkan dari kejenuhan.

5.      Muncul sikap usil. Seseorang merasa jenuh dengan keadaan yang ada, kemudian dia mencari hiburan-hiburan segar “segar” dengan cara berbuat usil kepada kepada orang-orang disekitarnya.

6.      Sikap antipati. Kejenuhan juga bisa menimbulkan sikap antipati yaitu sikap kebencian luar biasa terhadap sebab-sebab yang menimbulkan kejenuhan. Tentu ini lebih serius dari pada dampak yang lain.

7.      Mencari pelarian. Berbeda dengan sikap antipati, orang yang jenuh namun tidak berdaya melawan kejenuhan itu, maka dalam kondisi seperti itu, apa yang sering orang lakukan adalah mencari pelarian. Mereka akan melakukan apa saja untuk menghibur diri.

8.      Memicu kezhaliman. Kejenuhan luar biasa juga bias memicu orang untuk berbuat kezhaliman terhadap orang lain. Kejenuhan adalah tekanan, maka setiap orang membenci tekanan itu. Banyak cara yang ditempuh untuk membebaskan diri dari tekanan, kalau perlu dengan cara mengorbankan orang lain. Inilah praktek kezhaliman.

9.      Menimbulkan frustasi. Dampak paling serius dari kejenuhan adalah frustasi. Tekanan kejenuhan yang sangat berat tidak mampu diatasi dengan cara apapun. Dalam keadaan demikian orang kehilangan kepercayaan terhadap hidup yang dia jalani. Dia berfikir, mengakhiri hidup secara sengaja adalah pilihan terbaik. Padahal Allah telah melarang sikap frustasi

Ada beberapa prinsip penting yang perlu dipahami sebelum kita melangkah mencari solusi-solusi kongret atas problema kejenuhan. Prinsip-prinsip itu merupakan arahan untuk menyikapi kejenuhan secara bijaksana. Secara berurutan prinsip-prinsip tersebut dipaparkan sebagaimana dibawah ini.

1.      Perubahan suasana. Kejenuhan terjadi karena suasana yang berulang-ulang (monoton). Maka inti solusi dari problema kejenuhan adalah perubahan suasana. Dia harus mau keluar dari suasana lama yang mengelilingi, lalu masuk ke suasana baru yang lebih segar dan dinamis. Jika tindakan ini ditempuh, insya Allah kejenuhan itu akan terobati.

2.      Kesegaran. Mengapa kita perlu kesegaran? Sebab dengan kesegaran itu kita merasakan semangat (spirit) yang tinggi. Segala sesuatu yang kaku, monoton dan sejenisnya cenderung tidak disukai, sebab semua itu berpengaruh menurunkan semangat.

3.      Berfikir manfaat. Apapu kesibukan, jika disana ada hasil nyata yang diperoleh, seseorang akan memaksakan diri untuk menekuni kesibukan itu. Salah satu penyebab kejenuhan yaitu kemandegan prestasi. Seseorang terus menerus bekerja, tapi tidak mendapat hasil, akhirnya dia pun merasa jenuh. Dia bukan jenuh karena proses, tapi jenuh karena hasil.

4.      Melihat kebawah. Kita jangan memandang diri lebih mulia dari orang lain, sehingga memudahkan alasan kejenuhan. Kita harus mau menengok kebawah. Disana banyak sekali orang-orang yang kurang beruntung. Oleh karena itu, hargailah kesempatan, lalu ambilah masa kejenuhan sekedarnya saja.

5.      Rasa tanggung jawab. Cara efektif untuk mengatasi rasa jenuh adalah dengan memikirkan tanggung-jawab diri.

6.      Merenungi karya besar. Dengan merenungi karya besar, akan tumbuh energi besar dalam diri kita.

Demikianlah, fenomena kejenuhan sebenarnya memberikan hikmah yang sangat tinggi. Melalui kejenuhan kita diajak memahami bahwa kenikmatan hidup didunia ini sangatlah terbatas. Setinggi apapun nikmat dunia, lama-lama ia akan menjenuhkan. Maka janganlah kita menjadikan dunia itu sebagai tujuan tertinggi, sebab kenikmatan dunia pasti akan menjenuhkan. Jika ada yang tidak jenuh, maka ia adalah ketenangan jiwa, sedang hal itu hanya bisa diraih dengan keimanan.

“Tetapi kamu (orang-orang kafir) memilih kehidupan duniawi. Sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal.”(Q.S. Al-A’la: 16-17)

“Dan tiadalah kehidupan dunia Ini melainkan senda gurau dan main-main. dan Sesungguhnya akhirat Itulah yang Sebenarnya kehidupan, kalau mereka Mengetahui.” (Q.S. Al-Ankabut: 64)

“Dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir”. (Q.S. Yusuf: 87)

“Apabila datang kepada kalian disisi-Ku berupa petunjuk, Maka barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati”. (Q.S. Al-Baqarah: 38)

About these ads

30 thoughts on “Mengatasi Kejenuhan

    • memang, seharusnya malam itu waktu istirahat.
      tapi demi tuntutan profesi kita harus semangat 45,
      mudah-mudahan tips ini sedikit banyak dapat membantu mas dari kejenuhan. :D

  1. Ping-balik: 1 Tahun Bersama « Saipuddin's Blog

  2. sejenuh – jenuhnya aq…adlah sjak aq 5suk ke SMA….bbrapa blan yang lalu…mungkin pengaruh lingkungan baru yg aq blum bsa bradaptasi…mksh atas srannya…

  3. Ping-balik: Kimia Oh Kimia… « Saipuddin's Blog

  4. Ping-balik: Jangan Berputus Asa « Saipuddin's Blog

  5. Ping-balik: Belajar Efektif dan Menyenangkan | esdua.web.id

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s